Guru

Guru…oh guru.. segala ilmu yang kita peroleh tidak lepas dari peran serta beliau. Segala sesuatunya kita dapatkan. Dijaman ini, pengertian guru hanya berfokus pada seseorang yang menyampaikan sebuah materi pelajaran yang sesuai dengan kompetensinya. Sehingga yang didapat oleh siswanya hanya sebatas materi yang disampaikan. Pengetahuan tentang hidup selebihnya kita cari sendiri dari segala manis kehidupan yang kita alami.

Sehingga pengalaman-pengelaman dari pilihan-pilihan kehidupan menjadi pengetahuan langsung yang sangat berarti buat kita dalam menjalani hidup. Pengalaman langsung tersebut sangat-sangat berarti jika dibandingkan dengan pengelaman teori yang kita dapat, membuat kita lebih mampu menyikapi hidup. contohnya seperti: seorang anak kecil yang belajar tentang susu. Secara teori, susu itu cair dan warnya putuh. Bayangkan jika anak tersebut meminum cat putih, karena yang ia tau hanya susu itu cair dan warna putih bahkan rasanyapun dia tidak ketahui dan bertanya apa itu manis.

Pengalaman langsung kita dapat dari segala penjuru dan itu akan menjadi guru yang terbaik bagi kita. Sayangnya jarang ada yang mengakui dan mau menujukan sikap kepada setiap isi semesta yang mengajari kita tentang kehidupan sebagai guru. Kita cenderung memandang secara terpisah tanpa mau mengorek kedalamnya. Seperti halnya seorang musuh, kita mengangap mereka musuh, dan sama selaki tidak mau mengakui keberadaaanya sebagai seorang guru yang mengajari kita “Ini lho yang namanya musuh” setidaknya musuh mengajari kita rasa sakit hati.

Pernah saya mempunyai guru sangat bijaksana, dia menujukan ke arifan yang dulu belum saya sadari. Saya dengan sifat nakal saya sering mencari perhatian karena beliau salah satu guru yang saya idolakan. Dengan segala ulah yang saya lakukan tetapi beliau hanya mengucapkan terimakasih dan saya pun bertanya kenapa anda mengucapkan terimakasi kepada saya? beliau berkata, saya mengucapkan terimakasi karena kamu adalah guru bagi saya, kamu mengajarkan saya bagaimana sikap dan karakter individu sepertimu, mengajari bagaimana cara bersabar dan menghadapai individu sepertimu. Tetapi dalam konteks pendidikan formal, kamu tetap siswaku dan aku gurumu, dalam jiwaku berkata berbeda, kamu adalah guruku dan seluruh semesta guruku yang mengajariku banyak hal untuk aku berpijak dan menjadi bagian dari semesta ini.

Semua yang ada disemesta ini memiliki satu sisi guru yang mampu memberikan kita pengetahuan dan mengajari kita minimal mengajari tentang dirinya kepada kita. Dengan pemikirna ini, kita mampu mengurangi ego individu kita dan memulai memandang sesuatu dengan sejuk dan penuh kasih sayang. Trims

Kategori:Kaca Mata Hijau
  1. Februari 19, 2008 pukul 6:21 pm

    si mamah pernah punya beberapa guru di smp 2 bandung dan sma 3 bandung yang baik baiiiik…beliau beliau malah suka ngasih hadiah kalau nilai ulangan bagus….sekarang sih terbulak balik…banyak guru yang mengharapkan hadiah ya

  2. ipotes
    Februari 20, 2008 pukul 12:59 am

    ada-ada aja mamah, saya maen ke blog mama yach.. kalau guru yang bergelut dipendidikan seperti sekarang, kayakna maruk banget. Khan udah tiap bulannya dapat hadiah..he3 tetapi jika dipandang dai tulisan ini. ya dia termasuk guru juga karena sudah mengajari kita, tentang seorang guru yang ingin mendapatkan hadiah. trims

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: