Arsip

Posts Tagged ‘Pembelajaran’

Pendekatan Starter Eksperimen (PSE)

Mei 24, 2008 12 komentar

Pada dasarnya pendekatan pembelajaran berkembang saat ini menekankan pada bagaimana membelajarkan siswa secara maksimal sehingga suasana belajar dikelas menjadi kondusif untuk siswa yang pada akhirnya bermuara pada pengkatan prestasi belajar. Salah satu pendekatan yang ada adalah Pendekatan Starter Eksperimen.

Pendekatan Starter Eksperimen (PSE) adalah terjemahan dari  “Starter Experiment Approach“, merupakan pendekatan komprensif untuk pengajaran matematika, yang mencakup berbagai strategi pembelajaran yang biasanya diterapkan secara terpisah dan berorientasi pada keterampilan proses. Menurut Depdiknas (2005) Pokok bahasan matematika yang dapat disajikan dalam kegiata belajar mengajar (KBM) dengan PSE ialah bila kegiatan belajar bisa dilakukan dengan percobaan. PSE mempunyai ciri khusus yaitu mengetengahkan alam lingkungan sebagai penyulut (starter) selanjutnya, pembelajaran dilakukan dengan memperaktekan prinsip-prinsip metode ilmiah meliputi pengamatan, dugaan, desain percobaan, eksperimen dan laporan hasil penelitian.

Menurut Schoenher unsur-unsur  PSE yaitu: 1) Mulai dengan pengamatan lingkungan, 2) memisahkan langkah-langkah penting seperti pengamatan, dugaan awal dan perumusan konsep, 3) bekerja dalam kelompok untuk menentukan langkah-langkah dan pelaksanaannya dalam percobaan pembuktian, 4) menyampaikan gagasan, pendekatan, konsep, dan penerapan, 5) mendefinisikan kembali peranan guru sebagai simulator dan organisator dalam proses belajar, 6) melampaui batas pengetahuan (ingatan) menjadi pemahaman dan 7) memberikan motivasi kepada siswa dan guru matematika.

Adapun desain percobaan atau model pembelajaran dalam PSE merupakan langkah-langkah utuh dan berurutan. Tahapan-tahapan kegiatan belajar mengajar dalam PSE adalah sebagai berikut: 1) Percobaan awal, yang dirancang oleh guru yang bertujuan untuk menggugah anak belajar, membangkitkan rasa ingin tahu dan menghubungkan konsep yang dipelajari dengan alam lingkungan, 2) Pengematan, dilakukan oleh siswa secara berkelompok yang mempunyai tujuan untuk menghasilkan  hasil pengematan yang menuju pada konsep, 3)  Rumusan Masalah, dilakukan oleh siswa berdasarkan hasil pengematan yang bertujuan untuk membantu siswa dalam menyusun dugaan sementara, 4) Dugaan sementara, dilakukan siswa secara kelompok yang bertujuan untuk membuktikan dugaan sementara yang telah dirumuskan, 6) Perumusan Konsep, dilakukan oleh siswa yang bertujuan untuk dapat rumusan yang berlaku umum, 7) Penerapan Konsep, dilakukan oleh siswa yang bertujuan menggunakan kemapuannya dalam menerapkan konsep dalam situasi lain, 8) Evaluasi, dilakukan oleh siswa dengan tujuan, untuk menentukan efektifitas dari kegiatan belajar dalam wujud tingkat pemahaman siswa atas konsep yang telah diperoleh.

Iklan

Teori Motivasi

Mei 11, 2008 5 komentar

Baron dan Schank mendefinisikan bahwa motivasi adalah sebagai suatu proses internal yang mengaktifkan, membimbing dan mempertahankan perilaku dalam rentang tetentu. Secara sederhana motivasi adalah apa yang membuat kita berbuat, membuat kita tetap berbuat dan menemukan kearah mana yang hendak kita perbuat.

Dalam Kegiatan belajar terdapat dua aspek motivasi, yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik dapat diartikan sebagai dorongan untuk mencapai tujuan yang terletak di dalam perbuatan belajar. Misalnya, siswa dengan senang hati dan bekerja keras dalam melakukan tugas – tugas pembelajaran walaupun tidak menpadat gelar. Sebaliknya, motivasi ekstrinsik diartikan sebagai dorongan untuk mendapatkan ganjaran di luar perbuatan materi pelajaran yang dipelajari. Misalnya, selain ingin mendapatkan nilai yang bagus, pengakuan, hadiah atau penghargaan lain.

Menurut teori motivasi, motivasi dalam pembelajaran kooperatif terletak pada bagaimana bentuk hadiah atau struktur pencapaian tujuan saat siswa melaksanakan kegiatan pembelajaran. Slavin mengemukakan struktur pencapaian tujuan dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan seseorang ditentukan oleh keberhasilan kelompoknya. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan yang diinginkan anggota kelompok harus saling membantu satu sama lain untuk keberhasilan kelompok dan yang lebih penting adalah memberi dorongan atau dukungan kepada anggota kelompok lain untuk berusaha mencapai tujuan yang maksimal. Lebih lanjut keberhasilan kelompok didasarkan pada masing – masing anggota kelompoknya dengan cara meningkatkan motivasi belajar,  motivasi untuk mendorong semangat teman untuk belajar dan motivasi untuk membantu teman belajar.

Metode Pembelajaran Kooperatif

Mei 10, 2008 41 komentar

Menurut Slavin  pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok -kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain. Jadi Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri: 1) untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar  dalam kelompok secara kooperatif, 2) kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, 3) jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula, dan 4) penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan.

Dalam pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan bersama. Menurut Ibrahim dkk.  siswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika siswa lainnya juga mencapai tujuan tersebut. Untuk itu setiap anggota berkelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya.

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting. Menurut Depdiknas tujuan pertama pembelajaran kooperatif, yaitu meningkatkan hasil akademik, dengan meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademiknya. Siswa yang lebih mampu akan menjadi nara sumber bagi siswa yang kurang mampu, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Sedangkan tujuan yang kedua, pembelajaran kooperatif memberi peluang agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai perbedaan latar belajar. Perbedaan tersebut antara lain perbedaan suku, agama, kemampuan akademik, dan tingkat sosial. Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif ialah  untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud antara lain, berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.

Menurut Ibrahim, dkk. pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif untuk siswa yang hasil belajarnya rendah sehingga mampu memberikan peningkatan hasil belajar yang signifikan. Cooper mengungkapkan keuntungan dari metode pembelajaran kooperatif, antara lain: 1) siswa mempunyai tanggung jawab dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran, 2) siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, 3) meningkatkan ingatan siswa, dan 4) meningkatkan kepuasan siswa terhadap materi pembelajaran.

Menurut Ibrahim, unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif sebagai berikut: 1) siswa dalam kelompok haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama, 2) siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya, 3) siswa haruslah melihat bahwa semua anggota didalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama, 4) siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya, 5) siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok, 6) siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya, dan 7) siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara  individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Lebih lengkapnya ada bisa download disini Metode Pembelajaran Kooperatif.doc

Kelas Demokratis

Pada tahun 1916, Jhon Dewey, menulis sebuah buku ‘Democracy and Education‘. Dalam buku itu Dewey menggagas konsep pendidikan, bahwa kelas seharusnya merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium kehidupan nyata. Selaian itu Dewey menyatakan,  keseluruhan kehidupan sekolah harus ditata atau diorganisasikan sebagai bentuk kecil atau miniatur kehidupan demokrasi. Seperti halnya Dewey, Thelen berargumantasi bahwa kelas hendaknya merupakan miniatur demokrasi yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial antar pribadi. Maka untuk menciptakan kelas yang demokrasi, tangung jawab guru sangat dibutuhkan.

Dewey  menganjurkan dalam menciptakan lingkungan sosial yang dicirikan oleh lingkungan demokratis, guru harus memiliki tanggung jawab utama untuk memotivasi siswa dan memikirkan masalah sosial yang berlangsung dalam pembelajaran. Karena menurut keberhasilan individu atau kelompok dalam kelas demokratis, tergantung pada tingkat pengertian sosial, keterampilan dan kemapuan setiap orang untuk menciptakan suasana dimana perbedaan individu dapat dihargai dan tugas-tugas bersama dapat dikoordinasikan Untuk itu para siswa seyogyanya memperoleh kesempatan untuk berpartisifasi dalam pembangunan sistem sosial melalui pengelaman secara berangsur-angsur belajar bagaimana menerapkan metode yang berwawasan keilmuan dalam memperbaiki kehidupan masyarakat.

Menurut Dewey dan Thelan tingkah laku kooperatif merupakan dasar untuk membangun masyarakat kooperatif. Hal tersebut menjadi konsep untuk pengembangan pembelajaran kooperatif. Dengan menstrukturkan kelas dan aktivitas belajar siswa sedemikian rupa sehingga menunjukan hasil yang diinginkan.

Teori Konstruktivis dalam Pembelajaran

Para ahli konstruktivis menyatakan bahwa belajar melibatkan konstruksi pengetahuan saat pengalaman baru diberi makna oleh pengetahuan terdahulu. Menurut Ibrahim, dkk. persepsi yang dimiliki oleh siswa mempengaruhi pembentukan persepsi baru. Siswa menginterprestasi pengalaman baru dan memperoleh pengetahuan baru berdasar realitas yang telah terbentuk di dalam pikiran siswa. Konstruktive yang berakar pada psikologi kognitif, menjelaskan bahwa siswa belajar sebagai hasil dari pembentukan makna dari pengalaman. Peran utama guru adalah membantu siswa membentuk hubungan antara apa yang dipelajari dan apa yang sudah diketahui siswa.

Bila prinsip-prinsip konstruktive benar-benar digunakan di ruang kelas, maka guru harus mengetahui apa yang telah diketahui dan diyakini siswa sebelum memulai unit pelajaran baru. Menurut Ibrahim, dkk. Ada tiga asumsi yang menggambarkan konstruktivisme: 1) seseorang akan belajar paling baik jika secara pribadi terlibat dalam pengalaman belajar itu, 2) bahwa pengetahuan harus ditemukan oleh tiap-tiap individu apabila pengetahuan itu hendak dijadikan pengetahuan yang bermakna, 3) bahwa komitmen terhadap belajar paling tinggi apabila tiap-tiap individu bebas menetapkan tujuan pembelajaran dan secara aktif mempelajari untuk mencapai tujuan itu dalam suatu kerangka tertentu.